Lamongan, pusatberitarakyat.com — Masa depan pesantren tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran agama, tetapi juga oleh kemampuannya menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, membangun karakter, dan menyiapkan santri menghadapi perubahan zaman. Pesan tersebut mengemuka dalam pelantikan pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Paciran yang dirangkai dengan talk show bertajuk “Pesantren Ramah, Santri Digdaya” di Tanjung Kodok Resort, Lamongan, Senin (19/10/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen bagi kaum sarjana Nahdlatul Ulama untuk mengambil peran lebih luas dalam pengembangan pendidikan pesantren, perlindungan hak-hak santri, serta pemberdayaan masyarakat. Pelantikan tidak sekadar menandai terbentuknya kepengurusan organisasi, tetapi juga membuka harapan baru bagi lahirnya gerakan intelektual yang mampu menjawab kebutuhan umat secara nyata.
Talk show tersebut menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni Dr. Lia Istifhama dari DPD RI Jawa Timur, Dr. Aris Adi Leksono selaku Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) RI, serta Prof. Dr. M. Afif Hasbullah, S.H., M.Hum., Ketua Pimpinan Wilayah ISNU Jawa Timur.
Kehadiran ketiganya memberikan perspektif yang saling melengkapi, mulai dari aspek kebijakan, perlindungan anak, hingga tanggung jawab intelektual sarjana NU dalam memperkuat kualitas pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.
Wardatul Karomah: ISNU Harus Hadir Melalui Pengabdian Nyata
Ketua ISNU PAC Paciran, Wardatul Karomah, menjadi salah satu figur penting dalam momentum konsolidasi organisasi tersebut. Pelantikan kepengurusan diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat semangat pengabdian sarjana Nahdlatul Ulama, bukan berhenti pada kegiatan seremonial.
ISNU memiliki sumber daya intelektual yang dapat dikembangkan untuk menghadirkan pemikiran, gagasan, dan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Potensi tersebut perlu diorganisasi secara baik agar kehadiran sarjana NU dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar.
Penguatan kolaborasi dengan pesantren, lembaga pendidikan, pemerintah, serta berbagai elemen masyarakat menjadi salah satu langkah strategis yang dapat ditempuh. Melalui kerja sama tersebut, ISNU PAC Paciran diharapkan mampu berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan, pemberdayaan generasi muda, dan pengembangan kehidupan sosial yang lebih baik.
Soliditas kepengurusan juga menjadi modal penting. Organisasi yang aktif, terbuka, dan mampu membangun jejaring lintas sektor akan memiliki ruang gerak lebih luas untuk menerjemahkan nilai-nilai keilmuan dan keislaman Ahlussunnah wal Jamaah ke dalam program yang konkret.
Pesantren Ramah, Ruang Aman bagi Santri untuk Bertumbuh
Salah satu isu utama yang mengemuka dalam talk show adalah pentingnya membangun pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi santri.
Pesantren selama ini dikenal sebagai institusi pendidikan yang berperan dalam membentuk pemahaman agama, akhlak, kedisiplinan, dan karakter. Namun, penguatan nilai-nilai tersebut perlu berjalan seiring dengan komitmen untuk menjaga keselamatan, menghormati hak, serta mendukung tumbuh kembang santri.
Kehadiran Dr. Aris Adi Leksono selaku Ketua KPAI RI memberikan relevansi tersendiri terhadap pembahasan perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Isu ini menjadi pengingat bahwa perlindungan santri merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kesadaran, komitmen, dan dukungan kelembagaan.
Prinsip penghormatan kepada guru, pembiasaan adab, serta penegakan disiplin tetap menjadi bagian penting dari tradisi pesantren. Pada saat yang sama, penerapannya harus selaras dengan prinsip perlindungan anak agar proses pendidikan berlangsung secara manusiawi dan mendukung perkembangan peserta didik.
Dengan pendekatan tersebut, pesantren ramah bukan berarti menghilangkan kedisiplinan atau mengurangi penghormatan terhadap tradisi. Sebaliknya, konsep ini menempatkan nilai-nilai luhur pesantren dalam lingkungan pendidikan yang mampu memberikan rasa aman sekaligus mendorong santri berkembang secara optimal.
Perlindungan santri pun tidak semestinya dipandang sebatas urusan administratif. Lebih dari itu, perlindungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan kelembagaan untuk memastikan bahwa pendidikan mampu membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki masa depan yang baik.
Dukungan Kebijakan untuk Memperkuat Masa Depan Pesantren
Perspektif kebijakan turut hadir melalui Dr. Lia Istifhama dari DPD RI Jawa Timur. Keterlibatan unsur perwakilan daerah dalam forum tersebut memperluas pembahasan mengenai pentingnya dukungan kebijakan dan sinergi antarpemangku kepentingan dalam memajukan pesantren.
Sebagai bagian dari perjalanan pendidikan dan kehidupan sosial Indonesia, pesantren memiliki kontribusi besar dalam membentuk sumber daya manusia. Selain menjadi tempat pembelajaran agama dan pembentukan akhlak, pesantren juga berpotensi mengembangkan kepemimpinan, kemandirian ekonomi, kewirausahaan, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan pola kehidupan menuntut lembaga pendidikan untuk terus memperkuat kapasitasnya tanpa kehilangan jati diri.
Karena itu, santri perlu memperoleh kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kemampuan akademik, keterampilan praktis, kecakapan digital, dan daya adaptasi. Bekal tersebut penting agar mereka mampu mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan sekaligus mempertahankan nilai-nilai keislaman dan tradisi kepesantrenan.
Penguatan pesantren membutuhkan dukungan ekosistem yang luas. Pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu membangun sinergi agar peningkatan kualitas pendidikan pesantren dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sarjana Nahdlatul Ulama dan Tanggung Jawab Intelektual
Kehadiran Prof. Dr. M. Afif Hasbullah, S.H., M.Hum., selaku Ketua PW ISNU Jawa Timur, memperkuat dimensi intelektual dalam kegiatan tersebut.
Sarjana Nahdlatul Ulama memiliki potensi besar untuk menjadi penghubung antara pengetahuan akademik, kebutuhan kelembagaan, dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Potensi ini perlu diwujudkan melalui pengabdian yang terarah, bukan hanya melalui pemikiran yang berkembang di ruang diskusi.
ISNU dapat mengambil peran dalam penguatan literasi, pendampingan kelembagaan pesantren, peningkatan kapasitas pendidik, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembelajaran.
Dalam konteks tersebut, keberadaan ISNU PAC Paciran menjadi penting sebagai wadah konsolidasi para sarjana di tingkat lokal. Organisasi ini diharapkan mampu membangun jejaring profesional, mengembangkan program yang relevan, dan mendorong lahirnya solusi atas persoalan pendidikan maupun sosial di wilayah Paciran dan sekitarnya.
Tantangan organisasi setelah pelantikan adalah memastikan bahwa gagasan yang disampaikan dalam forum dapat ditindaklanjuti. Program yang terukur, kemitraan yang berkelanjutan, serta keterlibatan aktif para pengurus menjadi faktor penting untuk membuktikan bahwa organisasi sarjana dapat memberikan kontribusi nyata.
Santri Digdaya: Berakar pada Tradisi, Siap Menghadapi Perubahan
Gagasan santri digdaya menggambarkan harapan terhadap generasi pesantren yang memiliki kedalaman ilmu agama, akhlak yang kuat, kemandirian, dan daya saing.
Di tengah perkembangan zaman, santri perlu dibekali lebih dari sekadar penguasaan pengetahuan keagamaan. Keterampilan hidup, kemampuan berkomunikasi, kecakapan digital, jiwa kewirausahaan, serta kepekaan terhadap persoalan sosial menjadi bekal yang semakin penting.
Kemampuan tersebut dapat membantu santri memperluas kontribusinya, baik di lingkungan masyarakat, dunia pendidikan, sektor ekonomi, maupun berbagai bidang profesi.
Meski demikian, pengembangan kompetensi tidak boleh membuat pesantren kehilangan identitasnya. Nilai keteladanan, keikhlasan, kesederhanaan, penghormatan terhadap ilmu, dan pembentukan akhlakul karimah tetap menjadi fondasi utama pendidikan pesantren.
Pesantren ramah dan santri digdaya, dengan demikian, merupakan dua agenda yang saling menguatkan. Lingkungan pendidikan yang aman memberikan ruang bagi santri untuk belajar dan berkembang, sedangkan penguatan kapasitas membekali mereka agar mampu menghadapi tantangan masa depan.
Perpaduan keduanya diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga matang dalam karakter dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
Pelantikan sebagai Langkah Awal, Bukan Akhir Perjalanan
Pelantikan pengurus ISNU PAC Paciran di Tanjung Kodok Resort menjadi momentum untuk mempertegas kembali peran sarjana Nahdlatul Ulama dalam kehidupan masyarakat. Rangkaian talk show yang mengangkat isu perlindungan santri dan masa depan pesantren memberikan ruang bagi pengurus untuk melihat kebutuhan pendidikan dari berbagai sudut pandang.
Ke depan, ISNU PAC Paciran diharapkan memperkuat kemitraan dengan pesantren, lembaga pendidikan, pemerintah, organisasi kepemudaan, dan unsur masyarakat lainnya. Kerja sama tersebut dapat diarahkan pada penguatan literasi, edukasi perlindungan santri, pendampingan pesantren, peningkatan kapasitas generasi muda, serta pemberdayaan masyarakat.
Ukuran keberhasilan organisasi tidak hanya terletak pada terselenggaranya kegiatan atau banyaknya forum yang digelar, tetapi juga pada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Gagasan perlu diterjemahkan menjadi program yang realistis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Pesantren membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat, santri memerlukan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat, sementara kaum sarjana memiliki tanggung jawab untuk menyumbangkan pemikiran serta solusi yang relevan.
Melalui pelantikan dan talk show “Pesantren Ramah, Santri Digdaya”, ISNU PAC Paciran diharapkan semakin mengukuhkan diri sebagai wadah pengabdian kaum intelektual Nahdlatul Ulama. Dari Paciran, semangat membangun pesantren yang berkarakter, berkemajuan, dan mampu melahirkan generasi santri unggul diharapkan terus berkembang demi masa depan umat dan bangsa.(Ftn/Red)


























