Edukasi Kesehatan Mental Remaja Diperkuat Lewat Kolaborasi Sekolah dan Puskesmas
Lamongan, Pusatberitarakyat.com – Dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental remaja, SMA 1 Simanjaya Sekaran bekerja sama dengan Puskesmas Sekaran menyelenggarakan kegiatan P3LP (Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis) yang bertempat di Aula SMA 1 Simanjaya pada selasa,19 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti oleh para siswa dengan penuh antusias dan berlangsung dalam suasana edukatif, interaktif, serta penuh perhatian terhadap kondisi psikologis remaja masa kini.
Kegiatan P3LP (Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis) merupakan program edukasi yang bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan mental, mengenali tekanan emosional sejak dini, serta membangun kemampuan dasar dalam memberikan dukungan psikologis kepada diri sendiri maupun orang lain yang sedang mengalami masalah emosional.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala SMA 1 Simanjaya Sekaran, Rini Musaiyadah, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kestabilan emosi, dan kesehatan mental peserta didik.
Beliau menyampaikan bahwa tantangan kehidupan remaja saat ini semakin kompleks, mulai dari tekanan belajar, pergaulan sosial, penggunaan media sosial, hingga permasalahan pribadi yang dapat memengaruhi kondisi psikologis siswa. Oleh karena itu, sekolah merasa perlu menghadirkan kegiatan yang mampu memberikan pemahaman dan pendampingan kepada siswa agar lebih siap menghadapi berbagai tekanan tersebut secara positif.
“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Melalui kegiatan ini kami berharap siswa memiliki keberanian untuk memahami dirinya sendiri, mampu mengelola emosi dengan baik, serta saling mendukung antar teman agar tercipta lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan sehat secara psikologis,” ujarnya.
Materi penyuluhan disampaikan langsung oleh Kepala Puskesmas Sekaran, Dr. Yusworo Anggun Prabowo. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa luka psikologis sering kali muncul tanpa disadari dan dapat dialami siapa saja, khususnya remaja yang sedang berada pada masa pencarian jati diri dan perkembangan emosional.
Beliau menjelaskan berbagai bentuk tekanan psikologis yang umum dialami remaja, seperti stres akibat tugas sekolah, kecemasan berlebihan, rasa rendah diri, konflik pertemanan, hingga tekanan dari lingkungan sosial maupun keluarga. Selain itu, siswa juga diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda seseorang yang sedang mengalami gangguan emosional, seperti perubahan perilaku, kehilangan semangat, menarik diri dari lingkungan, hingga kesulitan mengendalikan emosi.
Dalam sesi tersebut, siswa diajak memahami bahwa pertolongan pertama pada luka psikologis dapat dimulai dari hal sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan dukungan positif, menghargai perasaan teman, serta berani mencari bantuan kepada guru, orang tua, maupun tenaga kesehatan apabila diperlukan.
Kegiatan berlangsung semakin menarik ketika memasuki sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa tampak aktif mengajukan pertanyaan seputar cara mengatasi stres belajar, menjaga kesehatan mental di tengah tekanan media sosial, hingga cara membantu teman yang mengalami masalah emosional. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu kesehatan mental menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan remaja saat ini. (Elsi/Red)


























