Usai Aktivitas MBG Berkurang, Harga Sayuran di Lamongan Kembali Normal
Lamongan, Pusatberitarakyat.com – Liburnya operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah selama masa libur sekolah membawa dampak tersendiri bagi pelaku usaha kecil dan pedagang makanan siap saji. Sejumlah pedagang mengaku merasakan peningkatan keuntungan seiring stabilnya harga bahan pangan di pasaran.
Salah seorang pedagang gado-gado di Kabupaten Lamongan yang berinisial MA mengaku kondisi pasar saat ini lebih menguntungkan dibanding saat permintaan bahan pangan meningkat akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui SPPG.
Menurut MA, sebelum aktivitas SPPG berkurang karena masa libur sekolah, sejumlah komoditas sayuran mengalami lonjakan harga yang cukup tinggi. Salah satunya adalah selada yang sempat mencapai Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
“Alhamdulillah sekarang harga mulai normal lagi. Selada yang sebelumnya sampai Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per kilo sekarang kembali di kisaran Rp25 ribu. Kami sebagai pedagang makanan jadi lebih mudah mengatur biaya produksi,” ujar MA, Rabu (24/6/2026).
Ia menilai stabilnya harga bahan baku membuat margin keuntungan pedagang makanan siap saji meningkat. Selain itu, daya beli masyarakat dinilai lebih terjaga ketika harga kebutuhan pokok kembali normal.
Pendapat senada disampaikan A, seorang pedagang sayur di Pasar Rakyat Sidomulyo, Lamongan. Menurutnya, tingginya permintaan bahan pangan untuk kebutuhan MBG sempat memengaruhi ketersediaan sejumlah komoditas di pasar.
“Sebagai pedagang tentu senang ketika harga jual naik. Tapi kemampuan pembeli justru turun drastis dan lapak menjadi lebih sepi. Kami juga melayani kebutuhan SPPG, namun permintaannya sangat besar sehingga kami sering kesulitan mencari barang yang sesuai spesifikasi,” katanya.
A mengungkapkan bahwa tantangan lain yang dihadapi pedagang adalah adanya permintaan spesifikasi produk yang cukup tinggi dari pihak penyedia MBG, namun di sisi lain harga pembelian ditekan serendah mungkin.
“Kadang permintaannya menurut kami tidak masuk akal. Barang harus sesuai spesifikasi yang tinggi, kualitas harus bagus, tetapi harga yang diminta semurah mungkin. Akhirnya kami kesulitan mencari margin keuntungan. Belum lagi harus mencari barang ke berbagai tempat karena stok di pasar sering tidak mencukupi,” ujarnya.
Menurut A, kondisi tersebut membuat pedagang harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan pasokan, sementara keuntungan yang diperoleh tidak selalu sebanding dengan tenaga dan risiko yang dikeluarkan.
Ia menambahkan, selama permintaan dari SPPG berlangsung, beberapa jenis sayuran menjadi lebih sulit diperoleh sehingga memicu kenaikan harga di tingkat pasar.
Dampaknya dirasakan tidak hanya oleh pedagang kecil, tetapi juga masyarakat umum yang harus membeli kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih mahal.
Meski mengakui tujuan Program Makan Bergizi Gratis untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah merupakan langkah positif, sejumlah pedagang berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaannya di lapangan.
Menurut mereka, evaluasi diperlukan agar program tersebut tidak menimbulkan gejolak harga, kelangkaan komoditas tertentu, maupun tekanan terhadap pedagang dan pemasok lokal.
Beberapa pedagang bahkan berpendapat pemerintah perlu mempertimbangkan skema atau program alternatif yang dinilai lebih efektif dalam membantu masyarakat tanpa mengganggu stabilitas pasar tradisional.
Para pedagang berharap kebijakan yang diterapkan ke depan mampu menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, keberlangsungan usaha pelaku UMKM, serta stabilitas harga bahan pangan di tingkat konsumen. (Red/MAS)


























