Menjaga Warisan Leluhur, Warga Dermolemahbang Gelar Tradisi Ider Dusun Setiap Tahun
Lamongan, Pusatberitarakyat.com – Jumat 5 Juni 2026, Ider Dusun merupakan tradisi mengelilingi kampung atau dusun yang umumnya dilakukan masyarakat di Jawa, khususnya Jawa Timur sebagai simbol tolak bala, ungkapan syukur atas keselamatan dan panen, serta membersihkan desa dari pengaruh buruk atau pagebluk (wabah).
Di Lamongan, khususnya Dusun Lemahbang, Desa Dermolemahbang, Kecamatan Sarirejo telah melaksanakan tradisi tersebut yang sudah berjalan selama 7 tahun. Dusun ini satu-satunya yang menggelar tradisi ini.
Pelaksanaan Ider Dusun tidak terlepas dari kontribusi salah satu kelompok pegiat sejarah dan budaya yang ada di dusun tersebut. Adalah Truno Hayuning Budoyo (THB), kelompok pegiat sejarah dan budaya yang, sebagai inisiatornya.
Ketua THB, Mohammad Fathoni menuturkan, pelaksanaan Ider Dusun diawali saat leluhurnya menjalankan perjalanan khusus atas petunjuk (wangsit) yang didapat menuju Dermolemahbang. Kegiatan itu menjadi tradisi secara turun-temurun hingga saat ini.
Ider Dusun dilaksanakan setahun sekali, tepatnya saat bukan Dzulhijah. Pelaksanaannya pada malam hari, tepatnya pukul 22.00 WIB. Diikuti seluruh anggota THB dan disertai Kepala Dusun (Kasun) , secara bersama-sama mengawali kegiatan tersebut dengan berkumpul di Pendopo Desa.
Dari pendopo, dilanjutkan melakukan tahlil dan doa bersama untuk para leluhur, warga dan untuk keselamatan warga dusun. Tahlil dipimpin oleh Kasun dengan duduk di atas tanah tanpa alas.
Usai, dilanjutkan dengan menuju 4 titik sudut desa untuk meletakkan sesaji, dengan diiringi seruan adzan. Adzan dikumandangkan di titik ke-1 hingga ke-4. Saat di titik terakhir, iqomah dilantunkan setelah adzan.
Untuk menuju ke semua titik, peserta diwajibkan Poso Guneman atau Puasa Bicara. Apapun alasannya tidak diperbolehkan berucap satu katapun apalagi mengobrol dengan lainnya. Larangan itu juga untuk tidak diperbolehkannya merokok. Dalam perjalanan, peserta dianjurkan bersholawat kepada Nabi Muhammad dalam hati.
Jarak yang ditempuh untuk menyelesaikan tradisi tersebut berjarak kurang lebih 3 kilometer, dalam waktu kurang lebih 1 jam, melewati sawah, kebun, serta belakang rumah warga dibawah sinar bulan.
Setelah semua ritual disemua titik selesai, maka seluruh peserta kembali ke makam sejenak, dan dilanjutkan dengan tumpengan di pendopo desa, kembali Kasun memimpin.
Tumpeng disajikan sesuai ciri khas dusun seperti ingkung ayam, tahu tempe, urapan dan lainnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dusun Dermolemahbang, Asikin Ghozali menyampaikan rasa bangga kepada generasi muda di Dermolemahbang. Ia meyakini kegiatan ini tanpa adanya generasi muda yang paham budaya tidak akan berjalan.
“Alhamdulillah, saya bangga kepada generasi muda di dusun kami. Meski masih muda, meraka paham akan budaya hingga menjadi kegiatan yang positif. Tanpa mereka tradisi ini tidak akan dikenal. Itu menjadi inspirasi bagi dusun,” ungkapnya.

Lebih lanjut Asikin menuturkan, Ider Dusun juga menjadi review bagi generasi muda di dusun untuk lebih memahami budaya Jawa.
“Kegiatan ini juga sebagai review untuk generasi muda disini. Kami mencoba kembali menuturkan kepada mereka bagaimana budaya Jawa yang ada disini,” tutur Asikin.
Perihal dukungan untuk kegiatan yang dilaksanakan THB, Ia menegaskan bahwa Ider Dusun telah menjadi tradisi. Dimana di dalamnya ada pelajaran untuk bisa diambil sebagai pelajaran akan tradisi dan budaya Jawa. Dukungan terus diberikan. Ia juga berharap masyarakat mengetahuinya, tidak gampang memusrikkan. Ider Dusun menjadi salah satu kegiatan untuk membuat warga guyub rukun dan gotong royong, dan tanah desa Gemah Ripah Loh Jinawi.
“Kami memberi ruang dan dukungan untuk kegiatan ini. Ini tradisi yang banyak memberikan pelajaran kepada kita, bagaimana manusia saling berinteraksi kepada alam dan sesamanya. Dalam pelaksanaannya kami juga berdoa sesuai ajaran islam. Jadi jangan gampang menganggap ini musrik. Lebih dalam, ini menjadi jalan untuk membuat warga guyub rukun dan dusun menjadi Gemah Ripah Loh Jinawi,” pungkasnya.
Ider Dusun menjadi sakral dan sebagai
tradisi sejak leluhur desa yang berasal dari Pekalongan pada masa lampau mendatangi Dermolemahbang sebagai perjalanan khusus.
Sejak itu, hingga kini tradisi Ider Dusun telah menjadi agenda rutin tahunan sebagai simbol keramah-tamahan warga dengan alam yang ditinggali. Selain itu, ini sebagai gelaran melestarikan tradisi dan budaya. (**)


























