Sambut 1 Suro, Ki Romo Sostro Serukan Introspeksi Diri dan Penguatan Spiritualitas
Lamongan, Pusatberitarakyat.com – Menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro, Dinas Satriya Sandi Citra yang lebih dikenal sebagai Ki Romo Sostro, Konsultan Spiritual sekaligus Ketua Sedulur Kembang Ati Lamongan, mengajak masyarakat menjadikan Bulan Suro sebagai momentum introspeksi diri, memperkuat spiritualitas, dan menata kehidupan ke arah yang lebih baik.
Menurut Ki Romo Sostro, Bulan Suro memiliki makna penting bagi masyarakat Jawa, tidak hanya sebagai pergantian tahun dalam Kalender Jawa, tetapi juga sebagai waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, serta mempererat hubungan sosial dengan sesama.
“Bulan Suro mengajarkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, merenungkan perjalanan hidup yang telah dilalui, memperbaiki kesalahan masa lalu, serta membangun semangat baru untuk menata masa depan yang lebih baik,” ujar Ki Romo Sostro.

Ia menjelaskan, tradisi Malam Satu Suro memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam. Saat itu, Sultan Agung memadukan sistem penanggalan Saka dan Hijriah menjadi Kalender Jawa yang hingga kini masih digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa. Dari sinilah tradisi peringatan Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, berbagai tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini, seperti tirakatan, doa bersama, jamasan pusaka, ruwatan, hingga tapa brata, pada hakikatnya bertujuan untuk membersihkan batin, memperkuat pengendalian diri, dan meningkatkan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.
Ki Romo Sostro juga mengingatkan pentingnya mengamalkan falsafah Jawa “eling lan waspada”. Eling berarti selalu mengingat Tuhan dan menyadari hakikat diri sebagai makhluk ciptaan-Nya, sedangkan waspada berarti berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan agar terhindar dari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, ia menilai masyarakat membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan lahiriah dan batiniah agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih tenang, bijaksana, serta penuh rasa syukur.
Melalui Sedulur Kembang Ati Lamongan, Ki Romo Sostro terus berupaya mengajak masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya Jawa yang menjunjung tinggi persaudaraan, gotong royong, kebersamaan, dan kebijaksanaan hidup. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan selama Bulan Suro diharapkan dapat menjadi sarana mempererat tali persaudaraan sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
“Momentum 1 Suro hendaknya menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Bersihkan hati dari iri, dengki, dan kebencian. Perkuat persaudaraan, tebarkan kebaikan, serta dekatkan diri kepada Tuhan agar kehidupan menjadi lebih berkah dan bermanfaat bagi sesama,” pungkas Ki Romo Sostro. (Red)


























