Ning Lia Istifhama Ajak Orang Tua Wujudkan Generasi Berkarakter Lewat Parenting Kebangsaan
NGANJUK, pusatberitarakyat.com – Semangat membangun generasi bangsa yang unggul tak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari kolaborasi antara keluarga dan lembaga pendidikan. Pesan inilah yang disampaikan Anggota Komite III DPD RI, Dr. Lia Istifhama, saat melakukan kunjungan kerja ke Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda Nganjuk, Sabtu (9/11).
Dalam kegiatan bertema “Parenting Kebangsaan: Mendidik Anak Berkarakter Baik dan Unggul untuk Kemajuan Bangsa Indonesia”, Ning Lia mengajak para orang tua, guru, dan santri untuk bersama menanamkan nilai kebangsaan dan karakter kuat sejak dini sebagai bekal menghadapi masa depan bangsa.
Acara ini turut dihadiri oleh Pengasuh Ponpes Miftahul Huda KH. Roni Sya’roni, Mbah Yai Ahmad Qolyubi, KH. Amir Marwah, Gus Habibi Dinil Haq, Ustadz Fauzi Fatahillah, Munawir Kabid Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk dan wali murid.
Dalam kesepatan itu, Ning Lia yang juga Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya peran keluarga dan lembaga pendidikan dalam membangun karakter anak bangsa.
Dalam forum yang penuh kehangatan tersebut, Ning Lia mengatakan dalam membentuk karakter unggul harus dimulai dari rumah dan diperkuat oleh lembaga pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai moral, nasionalisme, serta spiritualitas.
“Pendidikan karakter tidak hanya mencetak anak yang cerdas, tapi juga tangguh, bertanggung jawab, dan memiliki empati sosial. Inilah pondasi untuk membangun bangsa yang unggul dan bermartabat,” ujar perempuan yang baru-baru ini mendapatkan DetikJatim Awards 2025 di Malang tersebut.
Dalam kesempatan itu, Ning Lia memperkenalkan dua konsep penguatan karakter dan komunikasi efektif yang dikembangkan melalui riset dan pengalamannya sebagai akademisi, yaitu SUPEER dan 7C Theory. Dipaparkannya, konsep SUPEER mencakup nilai-nilai yakni Sociable (memiliki hubungan sosial yang baik), Unique (beridentitas khas), Problem Solver (mampu menyelesaikan masalah secara kreatif), Empathy (memahami psikologi sesama), Responsibility (bertanggung jawab) dan Visioner dan Resilient (tangguh menghadapi tantangan).
Sedangkan 7C Theory merupakan panduan komunikasi efektif yang terdiri dari Clear, Concise, Concrete, Correct, Coherent, Complete, dan Courteous (sopan). Ning Lia menekankan, penguasaan bahasa termasuk Bahasa Inggris menjadi bagian penting untuk mewujudkan komunikasi yang berkelas dunia namun tetap santun dan beretika.
Mengakhiri kunjungannya, Doktor Ilmu Manajemen Ekonomi Islam (MEI) UINSA itu berpesan agar seluruh civitas akademika Miftahul Huda tetap rendah hati di tengah prestasi besar yang telah diraih.
“Tetaplah bersahaja dan jangan jumawa. Karya nyata lebih indah daripada banyak gaya,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.
Kegiatan ditutup dengan pantun yang disampaikan Ning Lia, mengundang senyum para siswa. “Buah mangga buah kedondong, Siswa-siswi Miftahul Huda super manis. Kelak jadi orang sukses dong!.Buah pepaya buah srikaya, Siswa Miftahul Huda tak banyak gaya, tapi banyak karya,” kata Ning Lia, yang juga Putri KH Maskur Hasyim itu.
“Anak-anak Miftahul Huda ini luar biasa. Mereka bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga santun, kreatif, dan berakhlak. Inilah generasi yang kita harapkan membawa kemajuan Indonesia,” tegas Ning Lia, yang juga menjadi Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai versi ARCI 2025 tersebut.
Sekedar diketahui, Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda Nganjuk menaungi SD Islam Miftahul Huda dan SMP Sains Miftahul Huda yang dikenal sebagai lembaga pendidikan inovatif dan berprestasi tinggi di Kabupaten Nganjuk. Berdiri sejak 2014, sekolah ini sudah menerapkan pendekatan pembelajaran modern dengan bahasa pengantar asing serta pembiasaan karakter religius berbasis nilai “Rabbani, Shalihun likulli zaman wal makan” — insan saleh untuk setiap zaman dan tempat.
Pengasuh Ponpes Miftahul Huda Nganjuk KH. Roni Sya’roni, menjelaskan, standar kelulusan SD dan SMP Miftahul Huda menjadi yang tertinggi di Kabupaten Nganjuk, bahkan mendekati standar nasional. Perpaduan antara pembelajaran konvensional dan transformasi digital membuat siswa lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kalau semua ikut berperang, siapa yang akan belajar dan meneruskan ilmu fiqih? Maka, belajar juga bagian dari jihad,” ungkap salah satu pengasuh pondok KH Roni Syaroni, mengutip nilai yang dipegang Rasulullah SAW. (*)
















