Pusat Berita Rakyat
  • Home
  • Agro
    • Agro Sektor
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Komunitas
  • Nasional
  • Peristiwa
  • TNI – POLRI
No Result
View All Result
  • Home
  • Agro
    • Agro Sektor
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Komunitas
  • Nasional
  • Peristiwa
  • TNI – POLRI
No Result
View All Result
Pusat Berita Rakyat
Home Ekonomi

Indonesia 2026: Membangun Benteng Pangan di Tengah Gejolak Dunia.

by Jurnalis2
23 Mei 2026
in Ekonomi, Nasional, Opini
Indonesia 2026: Membangun Benteng Pangan di Tengah Gejolak Dunia.

Indonesia 2026: Membangun Benteng Pangan di Tengah Gejolak Dunia.

Pusatberitarakyat.com – Selama negara kita masih punya stok pangan yang melimpah dan rakyat masih bisa makan dengan harga yang masih terjangkau, negara lain atau spekulan dolar tidak akan bisa menggoyang negara ini. Pada titik ini, kita bisa belajar, betap pentingnya belajar Bela Negara agar bisa memahami konteks peperangan global di bidang ekonomi dan energi yang sedang berlangsung di dunia ini.

Kedaulatan Beras : Saat Sawah Mengalahkan Wall Street.

Para kritikus di Jakarta sibuk menghitung depresiasi Rupiah terhadap dolar seolah-olah besok kita tidak bisa makan. Mereka lupa satu hal, Indonesia tahun 2026 sudah bukan Indonesia 1998.

Ya, minyak goreng mahal. Ya, tahu dan tempe akan ikut tersengat karena kedelai kita masih 70% bergantung pada impor. Ya, harga gandum naik karena kita tidak punya sebutir pun gandum yang tumbuh dari tanah sendiri. Semua itu nyata. Dan kita tidak perlu menutup mata atas fakta tersebut.

Tapi ada yang lebih penting dari sekadar jujur mengakui kelemahan: kemampuan membedakan mana luka dan mana luka yang mengancam nyawa. Karena untuk dua urusan paling eksistensial, PERUT dan ENERGI GERAK, Indonesia 2026 sudah membangun benteng yang belum pernah ada sebelumnya.

Kita mulai menjinakkan dominasi dolar lewat transaksi LCT yang kini berjalan dengan 6 negara mitra dagang utama kita, termasuk Tiongkok dan UEA. Skema non-dolar ini bahkan sudah merambah ke sektor impor bahan baku pangan dan pupuk, sehingga pelan tapi pasti, ketergantungan kita pada mata uang Amerika di sektor hulu mulai dipetakan untuk habis.

Kita isi perut dengan beras hasil keringat petani kita sendiri setelah produksi padi mencatat tren tertinggi dalam satu dekade dan stok Bulog melampaui target buffer stock nasional. Dan yang paling menggetarkan: kita nyalakan traktor, truk, dan generator bukan lagi dengan solar impor melainkan dengan biodiesel B40 dari kebun sawit Kalimantan dan Sumatera.

Bukan wacana. Bukan pilot project. Realisasi B40 sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter melampaui 105% dari target menghemat devisa Rp130,21 triliun sekaligus memangkas impor solar dari 8,3 juta ton menjadi 5 juta ton dalam satu tahun saja. Dan 2026 kita sedang bersiap menuju B50 yang jika tuntas berarti impor solar Indonesia nol selamanya.

Jadi ketika Istana bilang “orang desa enggak pakai dolar”, itu bukan kelakar menghibur rakyat. Itu adalah pernyataan kedaulatan ideologi yang tegas bahwa ada lapisan fondasi ekonomi Indonesia yang tidak bisa digoyahkan oleh spekulan mata uang manapun, karena ia tidak berdiri di atas dolar. Ia berdiri di atas tanah dan sawit.

Tapi kita juga harus jujur pada diri sendiri tentang di mana dolar masih masuk lewat pintu belakang.

Petani desa memang tidak bertransaksi dengan dolar. Tapi dolar masuk diam-diam lewat harga pupuk fosfat dan kalium yang masih kita impor dari China, Rusia, Kanada, dan Timur Tengah.

Indonesia 2026: Membangun Benteng Pangan di Tengah Gejolak Dunia.

Depresiasi Rupiah menekan biaya produksi pertanian secara nyata, bahkan ketika petaninya sendiri tidak pernah memegang selembar dolar pun seumur hidupnya. Ini adalah lubang yang sedang aktif ditambal bukan lubang yang diabaikan.

Pertama, transaksi impor pupuk sudah mulai masuk skema LCT, dolar perlahan digantikan mata uang lokal bahkan di rantai pasok pertanian. Kedua, dan ini yang paling menggetarkan: di bawah tanah Papua Barat, sedang dibangun benteng ketiga.

Kawasan Industri Pupuk Fakfak berbasis gas alam Papua sendiri dari Blok Kasuari dirancang dengan kapasitas produksi 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amonia per tahun. Jika beroperasi penuh, ia akan memenuhi 70-80% kebutuhan pupuk nitrogen nasional dari perut bumi Papua, bukan dari kapal impor asing. Konstruksi fisiknya dimulai 2026. Sekitar 2028-2029, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada urea impor.

Apakah fosfat dan kalium masih PR? Ya. Apakah kedelai masih PR? Ya. Kita tidak akan berbohong soal itu. Tapi inilah bedanya Indonesia 2026 dengan Indonesia 1998. Dulu ketika Rupiah runtuh, seluruh lini ambruk sekaligus dalam satu malam, perut, energi, industri, kepercayaan diri, semua runtuh bersamaan tanpa ada satu pun benteng yang berdiri. Sekarang?

Ketika dolar bergejolak, ada benteng yang sudah kokoh berdiri. Ada lubang yang sedang aktif ditambal. Dan ada peta jalan yang jelas menuju lubang-lubang berikutnya. Bukan sempurna. Tapi bergerak. Dan tahu ke mana arahnya.

Spekulan asing di bursa boleh panik dan kabur membawa kertas saham mereka. Hedge fund Wall Street boleh bertaruh melawan Rupiah sepanjang malam. Tapi selama Bulog punya stok beras yang cukup untuk memberi makan bangsa ini tanpa mengemis ke pasar internasional, selama mesin traktor kita berputar pakai biodiesel dari kebun sawit anak negeri sendiri, dan selama di bawah tanah Papua sedang tumbuh pabrik pupuk yang akan membebaskan petani kita dari jerat harga dolar fondasi Indonesia tetap berdiri tegak berwibawa.

Depresiasi Rupiah itu nyata. Kedelai yang belum berdaulat itu nyata. Fosfat dan kalium yang masih impor itu nyata. Kita akui semuanya tanpa basa-basi, tanpa retorika kosong.

Tapi ada yang lebih nyata dari semua angka kurs di layar Bloomberg malam ini: Nasi yang kita makan malam ini tidak satu suap pun dibayar dengan dolar.

Biarkan Wall Street bergetar dengan dolarnya. Kita tetap kenyang dengan kedaulatan kita dan sedang bekerja keras mengisi yang belum. (**)

Opini oleh: Ketua MPO FKBN Bakorda Lamongan, Dr. R. Chusnu Yuli Setyo, M.Pd.

ShareTweetSend

Related Posts

Pejabat DJBC Kembali Ditahan KPK, BCW Desak September Jadi Momentum Evaluasi Bea Cukai
Berita

Pejabat DJBC Kembali Ditahan KPK, BCW Desak September Jadi Momentum Evaluasi Bea Cukai

31 Agustus 2026
BCW Kritik Rencana Layer Baru Cukai Rokok
Berita

BCW Kritik Rencana Layer Baru Cukai Rokok

28 Agustus 2026
BCW Soroti Data Produksi Rokok hingga Penerimaan Cukai
Berita

BCW Soroti Data Produksi Rokok hingga Penerimaan Cukai

28 Agustus 2026
Ketika Hutan Kaltim Terbakar: Bencana Alam atau Keserakahan Manusia?
Berita

Ketika Hutan Kaltim Terbakar: Bencana Alam atau Keserakahan Manusia?

27 Agustus 2026
KPK Tahan Pejabat Bea Cukai, BCW Dorong Usut Suap Impor Sampai Tuntas
Berita

KPK Tahan Pejabat Bea Cukai, BCW Dorong Usut Suap Impor Sampai Tuntas

26 Agustus 2026
Jangan Beli Karena Takut Ketinggalan: Membaca Peluang dan Risiko Properti 2026–2027
Berita

Jangan Beli Karena Takut Ketinggalan: Membaca Peluang dan Risiko Properti 2026–2027

25 Agustus 2026
Jangan Hanya Viral di Medsos, Ini Cara Resmi Adukan Persoalan MBG
Berita

Jangan Hanya Viral di Medsos, Ini Cara Resmi Adukan Persoalan MBG

23 Agustus 2026
Integrasi Bea Cukai-Pajak Mendesak, BCW Dorong Langkah Nyata
Berita

Integrasi Bea Cukai-Pajak Mendesak, BCW Dorong Langkah Nyata

21 Agustus 2026
Pasla Mart Lapas Lamongan Hadir, Perkuat Koperasi dan UMKM
Daerah

Pasla Mart Lapas Lamongan Hadir, Perkuat Koperasi dan UMKM

20 Agustus 2026

Hari Besar : HPN 2026

Info Publik : Fai Food

FAI Food: Rajanya Olahan Kambing

Oplus_131072
Oplus_131072

Promoted :

Berita Lain

Media Bela Negara :

BERITAPOPULER

  • Sarjana Banyak, Lapangan Pekerjaan Terbatas: Apakah Gelar Sudah Menjamin Masa Depan?

    Sarjana Banyak, Lapangan Pekerjaan Terbatas: Apakah Gelar Sudah Menjamin Masa Depan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pagar Nusa Cabang Lamongan Hadir dan Kawal Muktamar NU Ke-35 di Tambakberas Jombang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Naga Bersinar! Siswa SMPN 1 Kembangbahu Antar Narayana FC Juara YES U-14 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • M.S. Heruwidi Pimpin DPD MATRA Lamongan, Era Baru Pelestarian Adat dan Budaya Dimulai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Turun ke Sawah, Babinsa 0812/06 Ngimbang Dampingi Petani Tembakau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pastikan Tepat Sasaran, Babinsa Kawal Bantuan Beras di Sukorame

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dandim 0812/Lamongan Sambut Peserta Bimtek Ketahanan Pangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

UMKM Bela Negara : (Klik)

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Info Lainnya

© 2021 Pusat Berita Rakyat

No Result
View All Result
  • Home
  • Agro Sektor
  • Daerah
  • Desa Kita
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Suara Milenial
  • Teknologi
  • TNI – POLRI
  • UMKM
  • Wisata

© 2021 Pusat Berita Rakyat