Pusat Berita Rakyat
  • Home
  • Agro
    • Agro Sektor
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Komunitas
  • Nasional
  • Peristiwa
  • TNI – POLRI
No Result
View All Result
  • Home
  • Agro
    • Agro Sektor
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Komunitas
  • Nasional
  • Peristiwa
  • TNI – POLRI
No Result
View All Result
Pusat Berita Rakyat
Home Daerah

Setelah 50 Tahun Revolusi Hijau, Petani Lamongan Hadapi Tanah yang Kian “Lelah”

by Jurnalis2
30 April 2026
in Daerah
Setelah 50 Tahun Revolusi Hijau, Petani Lamongan Hadapi Tanah yang Kian “Lelah”

Setelah 50 Tahun Revolusi Hijau, Petani Lamongan Hadapi Tanah yang Kian “Lelah”

Lamongan, Pusatberitarakyat.com – Lebih dari lima dekade sejak digulirkan, Revolusi Hijau Indonesia masih menjadi fondasi utama pertanian di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Program yang diluncurkan pada era Soeharto sejak akhir tahun 1960-an, kebijakan ini berhasil mengubah wajah pertanian Indonesia dari tradisional menjadi modern berbasis teknologi. ini terbukti berhasil mendongkrak produksi padi secara signifikan. Namun, di balik capaian tersebut, kini muncul tantangan baru berupa penurunan kualitas tanah dan meningkatnya biaya produksi petani. Kamis, (30/04/2026).

Berdasarkan data yang dikutip resmi dari sumber online Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lamongan, kinerja produksi padi daerah ini masih tergolong tinggi. Pada 2024, luas panen padi tercatat sekitar 130,67 ribu hektare, dengan produksi mencapai 776,29 ribu ton gabah kering giling (GKG) atau setara 448,25 ribu ton beras. Capaian ini menempatkan Lamongan sebagai salah satu dari tiga besar daerah penghasil padi di Jawa Timur.

Meski demikian, tren penurunan mulai terlihat. Produksi beras turun sekitar 2,81 persen dibanding tahun sebelumnya, sementara luas panen menyusut sekitar 6,47 persen. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan keberlanjutan produktivitas pertanian di Kabupaten Lamongan di masa depan.

Di tingkat petani, perubahan kondisi lahan mulai dirasakan secara nyata.

Sutrisno (52), petani asal Kecamatan Laren, mengaku kini harus menggunakan pupuk dalam jumlah lebih banyak dibandingkan masa lalu.

“Dulu pupuk sedikit saja sudah cukup. Sekarang harus ditambah terus, tapi hasilnya tidak naik banyak,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Mujiono (47), petani Karangbinangun. Ia menilai kondisi tanah saat ini tidak lagi sebaik dulu.

Setelah 50 Tahun Revolusi Hijau, Petani Lamongan Hadapi Tanah yang Kian “Lelah”. Kamis (30/04/2026).

“Tanah sekarang keras. Kalau kering pecah, kalau basah lengket. Tidak seperti dulu yang gembur,” katanya.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya indikasi penurunan kesuburan tanah, yang ditandai dengan berkurangnya kandungan bahan organik serta meningkatnya ketergantungan terhadap pupuk kimia. Akibatnya, efisiensi pemupukan menurun dan biaya produksi petani semakin tinggi.

Selain itu, tekanan juga datang dari sisi serangan hama. Dalam beberapa musim tanam terakhir, petani mengaku harus meningkatkan frekuensi penyemprotan pestisida, yang turut menambah beban biaya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, sebagian petani mulai melakukan adaptasi.

Slamet (45), petani di Babat, misalnya, mencoba mengombinasikan pupuk kimia dengan pupuk organik.

“Sekarang saya campur dengan pupuk organik. Memang tidak langsung, tapi tanah jadi lebih enak diolah,” tuturnya.

Sejalan dengan itu, penyuluh pertanian mulai mendorong penerapan sistem budidaya yang lebih berkelanjutan, seperti pemupukan berimbang berbasis uji tanah, penggunaan pupuk organik, pengembalian jerami ke lahan, serta pengendalian hama terpadu (PHT).

Secara keseluruhan, Revolusi Hijau telah membawa Lamongan menjadi salah satu lumbung pangan nasional dengan produksi yang tetap tinggi hingga saat ini. Namun, sistem pertanian berbasis input kimia yang berlangsung selama puluhan tahun kini menunjukkan batasnya.

Turut menanggapi hal itu, Kepala Bakorda FKBN Kabupaten Lamongan Lamongan, Ferry Fadli mengatakan, kini Kabupaten Lamongan berada pada titik krusial, yakni mempertahankan produktivitas sekaligus menjaga kualitas lahan pertanian. Tanpa perubahan pendekatan, peningkatan produksi di masa depan berpotensi terhambat oleh kondisi tanah yang terus menurun. Hal ini harus menjadi keperdulian bersama baik birokrasi, pemdes dan kelompok tani (Poktan) dan Gapoktan,

“Revolusi Hijau telah menguatkan produksi pangan, tetapi keberlanjutan pertanian Lamongan akan sangat ditentukan oleh bagaimana tanah dikelola hari ini, dan hal ini harus menjadi perhatian semua pihak,” pungkasnya. (Red)

ShareTweetSend

Related Posts

Naga Borong Dua Emas di Kejuaraan Atletik Pelajar Lamongan 2026
Daerah

Naga Borong Dua Emas di Kejuaraan Atletik Pelajar Lamongan 2026

20 Juni 2026
Dandim 0812/Lamongan Pimpin Koordinasi Lintas Instansi Jelang Pra TMMD ke-129
Daerah

Dandim 0812/Lamongan Pimpin Koordinasi Lintas Instansi Jelang Pra TMMD ke-129

20 Juni 2026
Atlet Judo Polres Lamongan Bripda Rizqy Sabet Gelar Juara 1 Piala Kapolda Jatim 2026
Daerah

Atlet Judo Polres Lamongan Bripda Rizqy Sabet Gelar Juara 1 Piala Kapolda Jatim 2026

19 Juni 2026
KONI Lamongan Sah Terima Pengcab Orado sebagai Cabang Olahraga Anggota
Daerah

KONI Lamongan Sah Terima Pengcab Orado sebagai Cabang Olahraga Anggota

19 Juni 2026
SDN Legok 2 Gelar Pelepasan 84 Siswa Kelas VI Melalui Upacara Adat Mapag Panganten
Daerah

SDN Legok 2 Gelar Pelepasan 84 Siswa Kelas VI Melalui Upacara Adat Mapag Panganten

19 Juni 2026
Jaga Stabilitas Wilayah, TNI-Polri dan Pemda Kawal Pengesahan Anggota Perguruan Silat
Daerah

Jaga Stabilitas Wilayah, TNI-Polri dan Pemda Kawal Pengesahan Anggota Perguruan Silat

19 Juni 2026
TNI-Polri dan Pemkab Lamongan Bersinergi Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT 2026
Daerah

TNI-Polri dan Pemkab Lamongan Bersinergi Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT 2026

18 Juni 2026
Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Personel Polsek Deket Kompak Bersihkan Lingkungan Mako
Daerah

Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Personel Polsek Deket Kompak Bersihkan Lingkungan Mako

18 Juni 2026
Wujudkan Suro Aman dan Damai, Kapolres Lamongan Tegaskan Tidak Ada Negosiasi bagi Pelanggar
Daerah

Wujudkan Suro Aman dan Damai, Kapolres Lamongan Tegaskan Tidak Ada Negosiasi bagi Pelanggar

18 Juni 2026

Hari Besar : HPN 2026

Info Publik : Fai Food

FAI Food: Rajanya Olahan Kambing

Oplus_131072
Oplus_131072

Promoted :

Berita Lain

Media Bela Negara :

BERITAPOPULER

  • Naga Borong Dua Emas di Kejuaraan Atletik Pelajar Lamongan 2026

    Naga Borong Dua Emas di Kejuaraan Atletik Pelajar Lamongan 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dandim 0812/Lamongan Pimpin Koordinasi Lintas Instansi Jelang Pra TMMD ke-129

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polemik BPW PERADIN Jatim Berakhir, Ketum Minta Kader Fokus Bangun Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Narayana FC Lamongan U-13 Raih Juara 3 Pra Piala Soeratin 2026 Usai Tundukkan Elkisi Mojokerto 3-0

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sambut 1 Suro, Ki Romo Sostro Serukan Introspeksi Diri dan Penguatan Spiritualitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkuat Sinergi Pendidikan, Universitas Bilfath dan PC IPNU-IPPNU Babat Jalin Kerja Sama Strategis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Siswa SMP Favorit di Surabaya Jadi Korban Bullying Verbal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

UMKM Bela Negara : (Klik)

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Info Lainnya

© 2021 Pusat Berita Rakyat

No Result
View All Result
  • Home
  • Agro Sektor
  • Daerah
  • Desa Kita
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Suara Milenial
  • Teknologi
  • TNI – POLRI
  • UMKM
  • Wisata

© 2021 Pusat Berita Rakyat